Samuel Munson & Henry Lyman, 1834

Injil yang memerdekakan banyak suku dari kanibalisme

Henry Lyman & Samuel Munson Memorial Martir

Samuel Munson lahir tanggal 23 Maret 1804 di New Sharser Maine, sedang Henry Lyman lahir tanggal 23 November 1809 di Northhampton, Amerika Serikat. Pada tanggal 9 Juli 1833, para jemaat Baptis di Boston, Amerika Serikat, membuat perjamuan jemaat. Dalam pesta itu, semua perhatian tertuju pada dua pengkhotbah muda, Samuel Munson dan Henry Lyman dan istri mereka yang akan berangkat membelah samudera menuju sebuah negeri jauh yang belum pernah mereka kunjungi sebelumnya.

Negeri yang mereka tuju bernama Hindia Belanda, yang kelak akan menjadi tanah pekuburan mereka sendiri. Munson dan Lyman menumpang kapal bernama “Dunkan”, dengan sebuah acara pelepasan yang mengharukan dari anggota jemaat Gereja Baptis Boston. Keduanya melambai dan menatap para jemaat yang berbaris di bibir pelabuhan, hingga Benua Amerika lenyap sama sekali di belakang mereka.

Setelah berlayar selama 105 hari, Munson dan Lyman melihat sosok Pulau Jawa, dan kapal mereka merapat ke Batavia. Di kota yang sedang berkembang ini, keduanya mendapat sambutan dari seorang rohaniawan berkebangsaan Inggris, Gembala Madhurst. Selain dibekali pengetahuan teologia, mereka juga dibekali keterampilan medis. Dari surat-surat yang mereka kirimkan ke Boston, diketahui bahwa mereka sangat sibuk dengan para pasien yang datang tiap hari.

Setelah menguasai Bahasa Melayu, Munson dan Lyman mulai mengurus izin pada pemerintah Belanda untuk berangkat ke Tanah Batak. Gubernur Jenderal Pemerintahan Belanda di Batavia meluluskan permintaan mereka. Tanah Batak adalah impian Munson sejak ia sekolah theologi. Ia mendapatkan literatur yang menceritakan keindahan kawasan ini, berikut masyarakatnya yang masih menganut kepercayaan kuno, sipelebegu (sejenis animisme).

Tepat pada hari Selasa, 8 April 1834, Munson dan Lyman berangkat meninggalkan anak isteri mereka di Batavia dengan menumpang kapal besar “Mederika”. Mereka berada di antara para serdadu Belanda beserta tawanannya.

Pada 19 April 1834, atau sebelas hari sejak keberangkatan dari Jawa, mereka tiba di Bengkulu. Munson dan Lyman tinggal di sini selama 4 hari. Lalu pada tanggal 26 April 1834, mereka sudah menjejakkan kaki di Padang. Gembala Gereja Belanda, Ward menyambut keduanya. Munson dan Lyman mendapat banyak informasi penting dari beliau, karena Ward sudah pernah mengunjungi Tanah Batak pada tahun 1824. Menurut Ward, orang Batak adalah masyarakat yang ramah tamah. Ward juga menceritakan penyambutan raja-raja Batak terhadap dirinya yang disertai tarian (tortor).

Akhirnya, pada 17 Juni 1834, Munson dan Lyman tiba di Tanah Batak untuk pertama kalinya, yakni Sibolga. Tuan Bonnet, seorang pejabat Belan- da, menyambut mereka dengan ha- ngat. Dia bahkan memberikan perleng- kapan untuk keberangkatan mereka selanjutnya ke arah Silindung. Dalam perjalanan, Munson dan Lyman diser- tai seorang penerjemah, tukang masak, polisi, dan 8 pendamping lain. Rombongan kecil ini berangkat pada suatu sore yang teduh tanggal 23 Juni 1834, menembus belantara, lembah, dan pegunungan yang bergelombang selama 6 hari. Kadang-kadang, mere- ka harus merangkak seperti ekspedisi kelompok pecinta alam ketika melalui medan yang sangat sulit. Rura Silin- dung yang mereka tuju adalah sebuah lembah yang datar dan indah di sebelah utaraTapanuli.

Ketika sampai di kampung Raja Suasa, misionari Munson dan Lyman menerima saran dari Raja Suasa agar mereka menginformasikan lebih dulu kedatangan mereka di Silindung. Saat itu, suasana di Rura Silindung (seka- rang Kota Tarutung) memang masih diwarnai kemelut akibat ekses dari Perang Bonjol. Namun Munson dan Lyman memilih menghemat waktu agar segera tiba di Silindung. Tepat enam hari sejak berangkat dari Sibolga, satu sore yang indah menyambut mereka di pinggiran sebuah kampung. Munson mengutus penerjemah untuk menge- tahui keadaan di kampung tersebut sebelum memasukinya. Namun sete- lah beberapa jam, si penerjemah tak kunjung kembali. Menimbang cerita Gembala Ward, kedua misionaris itu tidak curiga kalau-kalau sesuatu telah terjadi.

Dalam keadaan yang belum dapat memutuskan tindakan selanjutnya, tiba-tiba semak belukar di sekitar mere- ka terkuak dan berderak. Serombong- an orang muncul dari balik pepohonan seraya berteriak, “Mulak, mulak ma hamu!” (Pulang, pulanglah kalian!). Kedua missionari itu terkejut, dan pa- da saat yang sama mereka menyadari bahwa para pengikut lain telah menghilang entah kemana, kecuali Jan.

Munson dan Lyman, dengan bahasa isyarat sesanggupnya, berupaya menggambarkan maksud tulus kedatangan mereka ke daerah itu. Tapi ko- munikasi tampaknya tidak nyambung, dan terjadilah salah pengertian. Melihat gelagat yang makin buruk, tiba-tiba Jan mengambil bedil yang dibawa Munson dari Padang, dan hendak menembakkannya ke arah orang ramai itu. Tindakan itu dicegah Munson. Tapi sayang, pada saat yang hampir bersa- maan, terdengar letusan bedil dari arah lain dan Lyman roboh bercucuran darah.

Detik-detik berikutnya makin menegangkan dan memperkecil peluang untuk saling pengertian. Munson yang malang masih mencoba memberi isyarat dengan menunjukkan Alkitab yang dibawanya, tapi suasana terlanjur panas dan chaos. Ia dipukuli hingga jatuh tanpa melawan maupun menun- jukkan rasa takut. Jan melarikan diri dan bersembunyi di kerapatan hutan. Ia berhasil lolos dan kembali ke Sibolga dalam keadaan payah, lalu menemui Tuan Bonnet. Informasi tentang insiden tersebut digambarkan oleh Jan. Kesimpulan

 

Karena kasih Kristus kepada orang Indonesia, para misionari datang menempuh perjalanan berbulan-bulan agar orang-orang diselamatkan. Dan orang dari Gereja Baptis yang pertama melakukan itu. Seandainya bangsa Indonesia lain tidak tahu, setidaknya orang Kristen Indonesia tahu bahwa Gereja Baptis adalah gereja paling awal selain gereja Belanda di bumi Nusantara. Misionari Baptis adalah yang paling awal memberitakan Injil baik di pulau Jawa maupun Sumatera.

Aneh sekali, ketika saya mendengar alumni GITS bercerita tentang pemimpin gereja yang berkata bahwa mereka tidak boleh memberitakan Injil di wilayahnya. Siapa yang menentukan bahwa itu adalah wilayah gereja tertentu? Ada juga pemimpin gereja yang sok berkuasa yang menanyakan surat ijin gereja. Gereja Baptis adalah gereja pertama di bumi Nusantara, sebelum ada Indonesia, bahkan sebelum Sumpah Pemuda.

Refs

https://archive.org/details/memoirsofrevsamu00muns

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s